Rabu, 22 Maret 2017

TUGAS KELOMPOK 1 FISIKA GP01



MAKALAH
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP KAJIAN PENDIDIKAN FILSAFAT ISLAM





DISUSUN OLEH :
                                               KELOMPOK : I
                                               NAMA            : ADE DIAN PERTIWI (1612240001)
                                                                         DWI ASNA PUTRI  (1612240017)
                                               PRODI            : PENDIDIKAN FISIKA

                                               DOSEN PEMBIMBING : MUHTAROM. M.Pd.i
                                              







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG
2017


KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atassegala limpahan rahmat, inayah, dan taufik-Nya. Shalawat dan salamtercurahkan untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telahmembimbing umatnya menjadi yang beriman, berilmu, beramal, danberakhlak al-karimah.
Penyusunan makalah  Filsafat Pendidikan Islam ini akan mengkaji
berbagai hal dalam pendidikan Islam seperti pengertian dan ruang lingkup kajian pendidikan islam.
Harapan penyusun, semoga modul ini memberikan manfaat bagi pembaca, baik kalangan mahasiswa maupun umum. Jika ada kekeliruan dan kurang sempurna, maka ke depannya akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki isi materi dan substansi modul ini.
Akhir kata, penyusun berdoa semoga Allah SWT memberikan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua. Amin.

                                                                                                                   
                                                                                                                   
                                                                                                                   
                                                                                                                   
                                                                                                                    Palembang

BAB I
LATAR BELAKANG

A.    Latar Belakang
Ketika Allah SWT menciptakan manusia pertama, tugas terberatnya adalah menjadi khalifah. Allah SWT membekali Adam dengan seperangkat ilmu pengetahuan, konsep dan terminologi duniawi yang para malaikatpun tidak mengetahuinya. Semua pengetahuan bersumber  dari Allah, dan Adam memperolehnya untuk memberi keyakinan kepada para malikat bahwa dirinya mampu menjalankan tugas sebagai khalifah.
Pendidikan menjadi pilar sangat strategis dalam proses internalisasi dan sosialsasi dari niai-nilai karena pendidikan bersentuhan langsung dengan aspek manusia yang didalamnya terkandung kekuatan-kekuatan yang harus distimulisasi, sehingga potensi-potensi yang dimiliki berkembang secara optimal, terutama dalam menghadapi berbagai bentuk tantangan dimasa depan. Delors mengemukakan bahwa dalam menghadapi tantangan dimasa depan, kemanusiaan melihat pendidikan sebagai sesuatu yang berharga yang sangat dibutuhkan dalam usahanya meraih cita-cita perdamaian, kemerdekaan dan keadilan sosial.
Islam juga telah menggariskan bahwa pendidikan menyiapkan individu-individu untuk dapat beribadah kepada Allah dan tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada sholat, shaum dan haji, tetapi setiap karya yang di lakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan ibadah.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksuddengan filsafat pendidikan Islam?
2.    Apasajaruanglingkupfilsafatpendidikan Islam?

C.  Tujuan Pembelajaran
1.  Mengetahui yang dimaksuddenganfilsafatpendidikan Islam.
2.  Mengetahuiapasajaruanglingkupdarifilsafatpendidikan Islam.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Filsafat
Sebelum membahas pengertian filsafat pendidikan Islam, kita harus paham apa itu arti dari filsafat. Seperti yang disampaikan didalam buku Suanarji Dahri Tiam filsafat adalah berfikir. Filosof sebagai orang yang berfilsafat adalah orang yang berfikir. Namun tidak semua manusia sebagai makhluk berfikir itu dikatakan orang yang filsafat atau berfilosof. Kita hanya mengambil satu kesimpulan bahwa orang yang berfilsafat adalah orang yang berfikir dan orang yang berfikir belum tentu berfilsafat.
Menurut St. Takdir Alisyahbana dalam buku “Berkenalan dengan filsafat Islam”, bahwa berfikir yang dapat dikategorikan berfilsafat itu adalah berfikir yang memenuhi beberapa syarat, antara lain syarat insaf dan bebas. Insaf dalam berfikir secara pasti, yaitu berfikir secara teliti dan teratur. Sedangkan bebas berarti tidak terikat pada keterikatan-keterikatan dari luar ketentun sisitem berfikir, kecuali pada keterikatannya sendiri sebagai suatu sistem pikir yang pasti (teliti dan teratur). Artinya bebas dari ketentuan agama (kepercayaan) bebas dari ketentuan ilmu dan lain sebagainya, tetapi terikat pada ketentuan-ketentuan berfikir berfilsafat.
Oleh karena itu berfikir dengan bebas itu, bukan berarti berfikir dengan sembarangan dan sesuka hati. Tetapi justru sebaliknya yakni berfikir yang betul-betul terikat. Ikatan tersebut timbul dari dalam, lahir dari hukum berfikir itu sendiri. Jadi yang dimaksud berfikir bebas adalah berfikir yang disiplin dan sekeras-kerasnya. Dari luar nampaknya sangat bebas, tetapi dari dalam justru sangat terikat.
Kata philosophos mula-mula dikemukakan oleh Heraklitos (540-480). Menurut dia philosophos (ahli filsafat) harus mempunyai pengetahuan yang luas sekalisebagai pengejewantahan dari kecintaannya kepada pengetahuan. Tetapi yang paling mula sekali memakai istilah philopsophia dalam arti cinta kepada kebijaksanaan adalah filosof Phytagoras (580-500 SM). Pengertian ini dimaksudkan sebgai reaksi dan sekaligus sebagai koreksi terhadap lingkungannya, dimana pada masanya orang-orang cerdik pandai menamakan dirinya sebagai orang yang ahli pengetahuan. Menurut Phytagoras, kata sophia dalam pengertiannya tidak layak atau bukan semestinya dipergunakan manusia. Pengetahuan menurut phytagoras adalah sesuatu yang masih kita cari. Kita hanya akan mampu menemukan sebagian kecil saja, mustahil akan mencakup keseluruhannya. Oleh karena itu, Phytagoras hanya menamakan dirinya sophia sebagai mana orang-orang cerdik pandai lainnya. Jadi Phytagoras hanya menamakan dirinya sebagai orang yang cinta kepada pengetahuan.
Hal yang perlu kita perhatikan, walaupun kata-kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, dan walaupun orang-orang Yunani purba sudah memiliki tradisi filsafat sejak 500 tahun sebelum Masehi, namun tidaklah berarti hanya orang-orang Yunani kunolah yang pertama kali berfilsafat.
Aula Abdul Kalam Azad, seorang cendekiawan muslim berkebangsaan India menerangkan:
Kita mengetahui bahwa Mesir dan Irak telah mengembangkan tingkat peradaban yang tinggi, jauh sebelum Yunani, kita pun mengetahui bahwa filsafat Yunani yang mula-mula dipegaruhi oleh hikmah purba Mesir. Plato dalam tulisan-tulisannya menimba hikmah (maxim) para pendeta Mesir dengan cara menunjukkan betapa otoritas mereka sebagai sumber pengetahuan yang tidak disangkal. Bahkan Aristoteles maju lebih jauh lagi dan mengatakan bahwa pendeta Mesir purba adalah filosof pertama di dunia ini. Hal ini menjadi mungkin untuk mencari jejak filsafat pada suatu periode terlebih dahulu daripada Yunani purba dan menentukan hakikat dan ruang lingkup perkembangannya, pada tingkat atau pada masyarakat lalu.
Dr. Lo Chia Luen, ketika menjadi duta Cina di India menulis artikel berjudul “General Characteristics Of Chinese Thought”, yang antara lain mengatakan bahwa:
Dengan meninggalkan perbedaan penafsiran mengenai alam pikiran Cina pada periode pra-confucian, saya ingin memulai pengajuan masalah saya ini hanya dari masa confuscius, kira-kira abad keenam sebelum Masehi dan selanjutnya,  yang dipandang sebagai permulaan era filsafat sistematik di Cina. Dan ini tidak disangsikan, periode puncak dan brilian alam pikiran di Cina.
Sarveralli Radhakrishan dalam bukunya Indian Philosophy membagi filsafat menjadi empat bagian:
1.      The Vecic Period (1500-600 SM)
2.      The Epic Period (600 SM-200M)
3.      The Sutra Period (mulai 200 M)
4.      The Scholastic Period (juga dimulai 200 M)
Dari penjelasan Azad tentang mesir dan Irak, Chia Luen tentang China, dan Radhakrishan tentang India seperti telah disebutkan di atas, jelaslah  kepada kita walaupun kata filsafat itu berasal dari bahasa Yunani, namun tidaklah berarti bahwa orang Yunani purbalah perintis pemikiran filsafat di dunia. Sebab di negeri-negeri yang lain seperti Mesir, Irak, Cina dan India sudah lama mempunyai tradisi filsafat, yang semasa atau jauh sebelum Yunani kuno, walaupun mereka tidak mempergunakan kata philosophia untuk maksud yang sama. Kembali kepersoalan semula bahwa kata filsafat menurut arti bahasanya adalah cinta kepada kebijaksanaan.
Dari segi istilah, pengertian filsafat mengandung pengertian yang berbeda-beda.  Selain itu seperti yang telah dijelaskan diatas, belumlah bisa memberikan gambaran yang sebenarnya tentang apa yang dimaksud degan filsafat itu. Memang memberikan penjelasan yang sempurna hanya satu dua kalimat saja tentang pengetahuan mana pun adalah tidak mudah. Begitu juga betapa sulitnya dengan dua tiga kalimat, menjelaskan hakikat dan arti filsafat .
Walaupun demikian dari dahulu sampai sekarang banyak juga para ahli mencoba memberikan pengertian dengan keterangan secukupnya, namun hasilnya belum bisa juga memberikan gambaran yang  sebenarnya, karena begitu luasnya lingkungan pembahasan filsafat. Tidak heran bahwa banyak para ahli kenamaan, mulai dari zaman klasik Yunani kuno sampai sekarang, baik dari Barat maupun dari Timur, mencoba memberikan batasan pengertian yang berbeda tekanan satu dengan yang lainnya.[1]
Hal ini tentu berdasarkan sudut pandang para ahli masing-masing. Sebagaimana telah dipahami bahwa filsafat berasal dari bahasa Yunani. Oleh karena itu para filsuf lazimnya mengawali pengertian filsafat dengan merujuk ketokoh-tokoh filsuf negeri asalnya antara lain pendapat Plato dan Aristoteles yang dianggap sebagai printis filsafat Yunani. Dalam bukunya Republic, Plato menggambarkan sosok para filsuf adalah orang-orang yang mencari kebenaran mutlak, kekal dan abadi. Mereka mencintai kebenaran dalam segala hal.[2]
Dari pengertian diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa berfilsafat itu sebagai usaha mengembangkan fikiran dengan insaf, semata-mata menurut hukum berfikir itu sendiri. Seandainya berfikir itu dianggap sebagai ciri manusia yang paling penting maka berfilsafat dapat dianggap sebagai perbuatan manusia yang paling radikal dalam menggunakan kesanggupan berfikirnya. Sehingga bisa juga dikatakan bahwa berfilsafat adalah berfikir secara radikal. Dalam arti berfikir berusaha mencari radix (akar)-nya. Jika sudah ditemukan akarnya, maka semua yang bermuara kepadanya akan mudah dipahami. Oleh karena itu sebagaimana filosof menjadikan syarat “radikal” kedalam berfikir, untuk dapat disebut berfikir yang berfilsafat, disamping itu syarat insaf dan bebas.
Disamping pengertian praktis itu, sering kita jumpai dimasyarakat, filsafat diartikan sebagai “mengambil pelajaran dari kenyataan-kenyataan”. Umpamanya saja filsafat keladi; umpama yang terkandung didalamnya adalah makin tua makin menjadi-jadi. Filsafat padi; kenyataannya pohon padi semakin tua berisi semakin merunduk. Pelajaran yang terkandung didalamnya adalah makin banyak ilmunya makin rendah hati (tidak sombong). Filsafat pohon pisang; pelajaran yang terkandung didalamnya bahwa pohon pisang tidak akan mati sebelum berbuah. Maksudnya adalah tidak akan berhenti berjuang sebelum memberikan hasil yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Filsafat ikan hidup di air laut; pelajaran yang dapat kita ambil dari kenyataan tersebut adalah biar berapa ribu tahun lamanya ikan hidup di air laut, ia tidak akan asin. Maksunya tidak akan mudah terpengaruh oleh pendirian orang lain, karena pendiriannya kuat, keyakinannya teguh. Jadi berfilsafat menurut pengertian praktis tersebut adalah berfikir secara mendalam, teliti dan teratur serta berdisiplin agar memperoleh pelajaran dari yang dipikirkannya.[3]

B.     Filsafat Islam
Secara definitif, sebagian orang mengatakan bahwa filsafat Islam adalah filsafat yang lahir dari rahim pemikiran orang islam. Pemahaman ini mengidentifikasi bahwa alur filsafat untuk memperoleh kebijaksanaan (wisdom) bermuara pada metafisika (ilahiyat) Islam yang selaras konsepsi filsafat Yunani. Senada pengetahuan tersebut, Fazlurahman menyatakan bahwa memahami filsafat Islam tidak bisa meminggirkan filsafat Yunani. Sebab Islam tak lebih merupakan “baju” bagi aktualisasi filsafat Yunani di dunia Islam.
Sekalipun demikian, yang tidak bisa dinafikan para filsuf adalah tujuan untuk memperoleh kebijaksanaan (wisdom) dengan cara berfilsafat. Kearifan atau kebijaksanaan yang diupayakan adalah kualitas keagamaan melalui penerapan struktur filsafat Yunani pada prinsip-prinsip Islam. Fazlurahman menyatakan bahwa filsafat Islam adalah filsafat yang memberi “gema” Islam kedalam filsafat. Sayyed Hoessin Nasr berbeda dengan Fazlurahman menegaskan bahwa filsafat Islam adalah filsafat yang bersumber dari sumber-sumber otoritatif Islam, yaitu Al-Qur`an dan Hadits. Dalam prakteknya filsafat Islam menjabarkan prinsip-prinsip dan menimba inspirasi dari sumber, sehingga melahirkan corak filsafat yang prinsip beda, meski pada tataran permukaannya banyak persamaan pada filsafat Yunani sebagai kiblat bagi proses inklusif dan adaftasi kreatif. Bertumpunya filsafat Islam pada kedua pengetahuan Islam tersebut, mengundang komentar Henry Corbin dan menyebut bahwa filsafat Islam sebagai Filsafat kenabian (prophetic philosophy).
Mencari kearifan merupakan makna dasar filsafat yang sudah ada sejak zaman purba. Oleh karena itulah, al-Farabi mencatat dalam kitabnya Tashlil al-Sa’adah bahwa orang-orang Khaldan (kawasan Mesopotamia) adalah pemilik purba tradisi filsafat yang diwariskan orang-orang Mesir dan di trasformasikan masyarakat Yunani. Sekalipun demikian, trdisi India dan Cina tidak bisa dikesampingkan sebagai daratan yang memiliki hubungan dengan filsafat Yunani.
Ditangan orang Yunani, tradisi mencari kearifan dilakukan secara intensif dengan metode sistematis serta berusaha melepaskan diri dari berbagai belenggu mitos. Pada taraf inilah, satu sisi rasional menjadi titik pijak filsafat. Pada sisi lain, metode intuitif dapat disemaikan pada penikmat mitologi Yunani. Sejak Zaman Yunani, metode yang digunakan dalam pemikiran filsafat tidak tunggal, tetapi menggunakan metode intuitif.
Sedangkan dalam pandangan para filsaf muslim, filsafat sebagimana makna dasarnya, yaitu cinta kearifan ( love of wisdom) yangbertujuan mencari hakikat segala yang ada (wujud) tanpa harus ditasi oleh segala usaha rasional, tetapi lebih menekankan pada pengguna segala sumber pengetahuan secara integratif, mulai dari potensi rasional, intuisi dan wahyu.
Dalam Islam, filsafat dengan berbagai aliran dan corak tersebut, tetap berda dalam koridor tujuannya, yaitu love of wisdom. Dalam islam terdapat istilah hikmah yang dapat didefinisikan sebagai filsafat. Dalam hikmah, kebenaran yang dicari adalah kebenaran yang tertinggi, yaitu Tuhan sebagai Yang Maha Benar (al-Haqq). Itulah puncak pencarian kebenaran sehingga metafisika disebut al-falsafah al-ula, sebagimana al-Kindi yang memberi judul bukunya dengan Fi al-Falsafat al-Ula. Dalam buku ini, al-Kindi berbicara tiga komponen filosofis, yaitu filsafat, hikmah dan hakikat. Ketiga komponen tersebut tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya, sebab ketiganya memiliki kesaling keterkaitan untuk membangun pemahaman komprehensif tentang filsafat Islam. Kearifan yang dicari itutidak hanya dalam tataran konseptual, seperti ditegaskan al-Kindi dalam Fi al-falsafat al-Ula bahwa filsafat memiliki tujuan teoritis, yaitu kebenaran dan tujuan praktis, yaitu struktur tindakan yang sesuai dengan kebenaran yang diperoleh. Oleh karena itu, kearifan dalam filsafat Islam tidak hanya teori belaka, melainkan struktur tindakan yang berbentuk prilaku dan pola hidup sebagai cermin pribadi seorang filosof.
Senada dengan al-Kindi al-farabi menambahkan dengan membagi dasar filsafat Islam pada keyakinan dan dugaan, sekaligus menegaskan bahwa filsafat adalah induk segala ilmu pengetahuan. Dengan pandangan yang menyamai kedua tokoh diatas, dalam Uyun al-Hikmah, Ibnu Sina mengatakan bahwa filsafat atau hikmah sebagai kesempurnaan jiwa manusia melalui tasawwur (konseptualisasi) dan tasdiq (pembenaran) atas realitas teoritis dan praktis sesuai dengan kemampuan manusia.
Kata filsafat Islam telah lama kita dengar, namun lingkup dan pahamnya belum begitu kita paham.  Pertama ketika filsafat Yunani diperkenalkan pada dunia Islam, Islam telah mengimbangkan sistem teologi yang menekankan kearifan tuhan dan syari’ah, yang menjadi pedoman bagi masyarakat muslim. Pandangan tauhid dan syari’ah sangat dominan, sehingga tidak ada sistem apapun termasuk filsafat yang diterima kecuali sesuai dengan ajaran Islam (tauhid dan shari’ah). Oleh karena itu, filsuf muslim selalu mencocokkan pemikiran filsafat Yunani dengan landasan fundamental Islam. kedua, sebagai pemikir Islam, para pemerhati para filsuf muslim menjadi asing dengan nalar kritis. Ketiga, adanya perkembangan unik dalam filsafat Islam sebagai akibat dari interaksi antara Islam denga Filsafat Yunani. Konsekuensinya, para filsuf muslim mengembangkan beberapa isu filsafat yang belum pernah dikembangkan para filsuf Yunani, filsafat kenabian misalnya.[4]
Ada beberapa pengertian mengenai bagaimana Filsafat Islam itu, antara lain sebagai berikut:
1.      Filsafat Islam sebagaimana filsafat pada umumnya didalam melaksanakan kerja berpikirnya (berfilsafat), berdasarkan kepada akal semata-mata. Selebihnya hanya bisa memberikan bantuan pribadi (mempengaruhi), bukan jenjang teknis didalam kerja pikirnya (filsafatnya) untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan filsafat.
2.      Filsafat Islam sebagai satu peradaban, bukan hanya Yunani tetapi bisa juga dipengaruhi dan mengambil dari peradaban-peradaban dan filsafat yang sudah tumbuh dan berkembang jauh sebelum islam, seperti India, Irak dan Mesir.
3.      Filsafat Islam pembahasannya sama dengan filsafat pada umumnya, meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam masalah manusia dan sesamanya dihadapan Tuhanya; hanya saja kesimpulan-kesimpulan filsafat Islam akan selalu disesuaikan dengan prinsip-prinsip agama, walaupun tidak selalu berhasil dengan baik.
4.      Islam sebagai agama, kaya akan benih-benih filsafat, sehingga bukan suatu hal yang mustahil apabila persoalan-persoalan yang dipermasalahkan oleh filosof-filosof Islam itu timbul atau terdorong oleh ajaran agama Islam  itu sendiri. Kalaupun sama dengan masalah-masalah yang telah dipersoalankan oleh filofof-filosof sebelumnya, itu hanya kebetulan.
5.      Islam sebagai peradaban, ternyata telah berhasil menampung aneka ragam kebudayaan secara akultursatif menjadi corak pemikiran dalam satu kesatuan pemikiran dan kebudayaan Islam.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka lebih tepat kalau pengertian Filsafat Islam  tersebut kita rumusakan sebagai berikut
“Filsafat Islam sebagaimana filsafat pada umumnya didalam melakasanakan kerja berpikirnya, berdasarkan kepada akal semata- mata. Filsafat Islam yaitu filsafat yang berinspirasikan dari luar (filsafat-filsafat sebelumnya) dan juga berinspirasikan dari dalam agama islam itu sendiri karena, motivasi agama, berfikir yang sedalam-dalamnya dengan insaf dan bebas tentang segala yang ada untuk memahami kebenaran, kemudian dengan caranya sendiri, kebenaran menurut filsafatnya akan disesuaikan dengan kebenaran menurut informasi agama.[5]

C.    Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Istilah filsafat pendidikan islam, mengandung tiga unsur kata yang saling berkaitan yaitu filsafat, pendidikan dan islam. Dalam bentuk kesatuan, filsafat pendidikan islam memiliki kesatuan tersendiri. Kata filsafat baru dikenal oleh ilmuan muslim setelah pertemuan antara peradaban Islam dan Hellenisme (Yunani). Orang Arab memindahkan kata Yunani philopshophia kedalam bahasa Arab menjadi falsafah. Untuk memehami apa makna dari filsafat perlu ditelusuri kesumber asalnya, yakni bahasa Yunani.
Perkataan philopsophia merupakan perkataan bahasa Yunani yang dipindahkan oleh orang-orang Arab dan disesuaikan dengan tabiat susunan kata Arab yaitu falsafah dengan pola falala dan fi’la yang kemudian menjadi kata kerja falsafah dan filsaf. Adapun sebutan filsafat yang diucapkan dalam bahasa Indonesia kemungkinan besar merupakan gabungan kata Arab dan bahasa Ingris philosophiyang kemudian menjadi filsafat .
Para pengamat mengungkapkan, bahwa filsafat dibentuk dari kata philos dan sophia. Philos berarti terbentuk dan sophia artinya kebenaran. Dengan demikian secara etimologis, filsafat berarti cinta kebenaran (Ensiklopedia Indonesia, 1990). Dalam pendekatan filsafat yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah kebenaran yang didasarkan penilaian menurut nalar manusia. Plato dan Aristoteles mengembangkan teori korehensi mengemukakan bahwa “kebenaran” adalah apabila “pernyataan yang dianggap benar itu dianggap koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya.”
Kebenaran berfungsi sebagai tolok ukur antara peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Kebenaran yang demikian mengandung pengertian relatif, sebab tergantung ruang dan waktu. Walaupun demikian, dari segi etimologi filsafat adalah cinta terhadap kebenaran, cinta terhadap kebijaksanaan, cinta terhadap kearifan dan cinta terhadap pengetahuan.[6]
Didalam makalahRahmi Rabiatymemiliki dua konsep pengertian yaitu pengertian filsafat pendidikan dan filsafat pendidikan Islam.
a. Pengertian Filsafat Pendidikan
Berbagai pengertian filsafat pendidikan telah dikemukakan para ahli. Menurut al-Syaibani filsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur, yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan. Artinya, filsafat pendidikan dapat menjelaskan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk pengalaman kemanusiaan merupakan faktor yang integral.
Filsafat pendidikan juga bisa didefinisikan sebagai kaidah filososfis dalam bidang pendidikan yang menggambarkan aspek-aspek pelaksaan falsafah umum dan menitikberatkan pada pelaksaan prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoalan pendidikan secara praktis.
 Menurut Imam Bernadib, filsafat pendidikan merupakan ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisis filsofis terhadap pendidikan. Sedangkan menurut John Dewey, filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukkan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaaan (emosional) menuju tabiat manusia. Jadi untuk mendapatkan pengertian filsafat pendidikan yang lebih jelas, ada baiknya kita melihat beberapa konsep mengenai pengertian pendidikan itu sendiri. Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidik terhadap perkembanganjasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya manusia yang memiliki kepribadian yang utama dan ideal, yaitu kepribadian yang memiliki kesadaran moral dan sikap mental secara teguh dansungguh-sungguh memengang dan melaksanakan ajaran atau prinsip-prinsip nilai (filsafat) yang menjadi pandangan hidup secara individu, masyarakat maupun filsafat bangsa dan negara.
b. Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat pendidikan Islam memiliki pengertian yang mengkhususkan kajian pemikiran-pemikiran yang menyeluruh dan mendasar tentang pendidikan berdasarkan tuntutan ajaran Islam. Sedangkan ajaran Islam sebagai sebuah sistem yang diyakini oleh penganutnya yang memiliki nilai-nilai tentang kebenaran yang hakiki dan mutlak, untuk dijadikan sebagai pedoman dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk didalamnya apek pendidikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa filsafatpendidikan Islam adalah pemikiran yang radikal dan mendalam tentang berbagai masalah yang ada hubungannya dengan pendidikan Islam.
Sebagai contoh akan dikemukakan beberapa masalah kependidikan yang memerlukan analisis filsafat dalam memahami dan memecahkannya, antara lain:
1) Apakah hakikat pendidikan. Mengapa pendidikan harus ada pada manusia dan merupakan hakikat hidup manusia. Apa hakikat manusia dan bagaimana hubungan antara pendidikan dengan hidup dan kehidupan manusia.
2) Apakah tujuan pendidikan yang sebenarnya.
3) Apakah hakikat peribadi manusia. manakah yang utama untuk dididik; akal, perasaan atau kemauannya, pendidikan jasmani atau mentalnya, pendidikan skiil ataukah intelektualnya,ataukah kesemuanya dan lain sebagainya.
Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.[7]
Filsuf adalah ahli pikir radikal, yang berusaha mencapai radix, akarnya. Akar kenyataan, dunia, wujud, akan pengetahuan tentang diri sendiri. Didalam buku Ali Murtopo terdapat beberapa ahli mengemukakan pendapat mengenai Filsafat Pendidikan Islam.
Menurut Zakiyah Daradjat mendefinisikan pendidikan islam sebagai usaha dan kegiatan yang dilaksanakan dalam  rangka menyampaikan seruan agama dengan bertakwah, menyampaikan ajaran memberi contoh, melatih keterlampiran berbuat, memberi motovasi dan menciptakan lingkungan sosial yang  mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim.
Menurut Jalaluddin menuliskan bahwa pendidikan Islam merupakan  usaha untuk membimbing dan mengembangkan potensi  peserta didik secara optimal agar mereka mampu menopang keselamatan dan kesejatraan hidup di dunia dengan perintah syari’at Islam. Kehidupan yang konsisten dengan syari’at ini diharapkan akan memberi dampak yang sama dalam kehidupan  di akhirat, yaitu keselamatan dan kesejatraan. Sejalan dengan pemandangan tersebut.
                        Menurut Azyumardi Azra, pendidikan Islam adalah sebagai sebuah usaha dan cara kerja yang paling sedikit memiliki tiga karakter. Pertama, pendidikan pengetahuan, penguasaan dan pengembangan atas dasar ibadah kepada Allah SWT. Kedua, pendidikan Islam merupakan sebuah pengakuan akan potensi dan kemampuan seseorang untuk berkembangdalam suatu kepribadian. Ketiga, pendidikan Islam merupakan sebuah pengalaman ilmu atas dasar tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Demikian pendidikan islam sebagai sebuah usaha manusia dewasa menempatkan posisi yang mulia sebagai tugas kemanusiaan dan kehambaan, karena terjalin dalam kerangka hubungan antar manusia sekaligus bernilai ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Umat Islam sendiri mengakui kegian pendidikan merupakan sebuah sarana untuk melakasanan kewajiban menuntut ilmu pengetahuan.
Dari urain diatas dapatlah dirangkainkan bahwa  filsafat pendidikan islam adalah pemikiran mendalam, universal dan sistematis yang berkaitan dengan masalah-masalah pendidikan islam. [8]
Fungsi filsafat pendidikan Islam sebagaimana juga filsafat pendidikan umum, juga harus mampu membuat suatu pedoman kepada perancang dan orang-orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran (al-Syaibani, 1973). Menurut al-Syaibani, dalam rinciannya, filsafat pendidikan Islam setidak-tidaknya harus mampu memberi manfaat bagi pendidikan Islam dalam hal berikut:
1.      Membantu para perancang maupun, para pelaksana pendidikan (Islam) dalam membentuk pemikiran yang benar terhadap proses pendidikan.
2.      Memberi dasar bagi pengajian pendidikan (Islam) secara umum dan khusus.
3.      Menjadi dasar penilaian pendidikan (Islam) secara menyeluruh.
4.      Memberi sandaran intelektual, serta bimbingan bagi pelaksana pendidikan (Islam) untuk menghadapi tantangan yang muncul dalam bidang pendidikan, sebagai jawaban dari setiap permasalahan yang bakal timbul dalam bidang pendidikan.
5.      Memberikan pendalaman pemikiran tentang pendidikan dalam hubungan dengan faktor spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, politik dan berbagai aspek kehidupan lainnya.[9]
Dalam dunia pendidikan Islam, terdapat tiga aliran utama filsafat pendidikan Islam, yaitu:
a.       Aliran Konservatif, dengantokoh utamanya adalah al-Ghazali.
Tokoh-tokoh aliran ini adalah al-Ghazali, Nasiruddin al-Thusi, Ibnu Jama’ah, Sahnun, Ibnu Hajar al-Haitami, dan al-Qabisi. Aliran al-Muhafidz cenderung bersikap murni keagamaan.Aliran ini memaknai ilmu dengan pengertian sempit. Menurut al-Thusi, ilmu yang utama hanyalah ilmu-ilmu yang dibutuhkan saatsekarang, yang jelas akan membawa manfaat di akhirat kelak.
Al-Ghazali mengklasifikasikan ilmu menjadi:
a. Berdasarkan pembidangannya, ilmu dibagi menjadi dua bidang:
1. Ilmu syar’iyyah, yaitu semua ilmu yang berasal dari para Nabi, terdiri atas: Ilmu ushul (ilmu pokok). Ilmu furu’(cabang), Ilmu pengantar (mukaddimah), dan Ilmu pelengkap (mutammimah).
2.  Ilmu ghairu syar’iyyah, yaitu semua ilmu yang berasal dariijtihad ulama’ atau intelektual muslim, terdiri atas: Ilmu terpuji, Ilmu yang diperbolehkan (tak merugikan),dan  Ilmuyang tercela (merugikan).
b. Berdasarkan status hukum mempelajarinya, dapat digolongkanmenjadi 2:
Ilmu yang fardlu ‘ain, dan  Ilmu yang fardlukifayah.
                        Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu-ilmu keagamaanhanya dapat diperoleh dengan kesempurnaan rasio dankejernihan akal budi.Karena, hanya dengan rasiolah manusiamampu menerima amanat dari Allah dan mendekatkan diri
kepada-Nya.Pemikiran al-Ghazali ini sejalan dengan aliran Mu’tazilah yang berpendapat bahwa rasio mampu menetapkanbaik buruknya sesuatu.Pola umum pemikiran al-Ghazali dalam pendidikannya antara lain:
a. Kegiatan menuntut ilmu tiada lain berorientasi pada
pencapaian ridha Allah.
b. Teori ilmu ilhami sebagai landasan teori pendidikannya, dan diperkuat dengan sepuluh kode etik peserta didik.
c. Tujuan agamawi merupakan tujuan puncak kegiatan menuntut ilmu.
d. Pembatasan term al-‘ilm hanya pada ilmu tentang Allah.
     Dari deskripsi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwapemikiran utama aliran konservatif antara lain: Ilmu adalahilmu al-hal, yaitu ilmu yang dibutuhkan saat sekarang yang bisa membawa manfaat di akhirat,  Ilmu-ilmu selain ilmukeagamaan adalah sia-sia, dan Ilmu hanya bisa diperolehmelalui rasio.
b.      Aliran Religius-Rasional,dengan tokoh utamanya yaitu Ikhwan al-Shafa
        Tokoh-tokoh aliran ini adalah Ikhwan al-Shafa, al-Farabi,Ibnu Sina, dan Ibnu Miskawaih.Aliran ini dijuluki “pemburu”hikmah Yunani di belahan dunia Timur, dikarenakanpergumulan intensifnya dengan rasionalitas Yunani.Menurut Ikhwan al-Shafa, yang dimaksud dengan ilmuadalah gambaran tentang sesuatu yang diketahui pada benak
(jiwa) orang yang mengetahui. Proses pengajaran adalahusaha transformatif terhadap kesiapan ajar agar benar-benarmenjadi riil, atau dengan kata lain, upaya transformatif terhadapjiwa pelajar yang semula berilmu (mengetahui) secarapotensial, agar menjadi berilmu (mengetahui) secara riil-aktual.Dengan demikian, inti proses pendidikan adalah pada kiattransformasi potensi-potensi manusia agar menjadikemampuan “psikomotorik”.
Ikhwan berpendapat bahwa akal sempurna mengemanasikan keutamaan-keutamaan pada jiwa dandengan emanasi ini eternalitas akal menjadi penyebabkeberadaan jiwa.Kesempurnaan akal menjadi penyebabkeabadian jiwa dan supremasi akal menjadi penyebabkesempurnaan jiwa. Pandangan dualisme jiwa-akal Ikhwantersebut merupakan bukti dari pengaruh pemikiran Plato.
Menurut Ikhwan, jiwa berada pada posisi tengah antaradunia fisik-materiil dan dunia akal. Hal inilah yang menjadikan pengetahuan manusia menempuh laju “linier-progresif” melaluitiga cara, yaitu:
1) Dengan jalan indera, jiwa dapat mengetahuisesuatu yang lebih rendah dari substansi dirinya;
2) Denganjalan burhan (penalaran-pembuktian logis), jiwa bisamengetahui sesuatu yang lebih tinggi darinya; dan
3) Denganperenungan rasional, jiwa dapat mengetahui substansi dirinya.
Ikhwan tidak sependapat dengan ide Plato yang menganggap bahwa belajar tiada lain hanyalah prosesmengingat ulang. Ikhwan menganggap bahwa semuapengetahuan berpangkal pada cerapan inderawiah.Segalasesuatu yang tidak dijangkau oleh indera, tidak dapatdiimajinasikan, segala sesuatu yang tidak bisa diimajinasikan,maka tidak bisa dirasiokan.
Kalangan Ikhwan sangat memberi tempat terhadap ragamdisiplin ilmu yang berkembang dan bermanfaat bagi kemajuanhidup manusia.Implikasinya adalah konsep ilmu berpangkalpada “kesedia-kalaan” ilmu tanpa pembatasan.
Ikhwan membagi ragam disiplin ilmu sebagai berikut:Ilmu-ilmu Syar’iyah (keagamaan),  Ilmu-ilmu Filsafat, dan Ilmu-ilmu Riyadliyyat (matematik). Al-Farabi menghendaki agaroperasionalisasi pendidikan seiring dengan tahap-tahapperkembangan fungsi organ tubuh dan kecerdasan manusia.
Dari pemikiran kedua tokoh di atas, teori utama aliranReligius-Rasional ini antara lain: Pengetahuan adalahmuktasabah, yakni hasil perolehan dari aktivitas belajar, Modal utama ilmu adalah indera,  Lingkup kajian meliputipengkajian dan pemikiran seluruh realitas yang ada, Ilmupengetahuan adalah hal yang begitu bernilai secara moral dansosial, dan  Semua ragam ilmu pengetahuan adalah penting.
c.        AliranPragmatis, dengan tokoh utamanya adalah Ibnu Khaldun.
Tokoh aliran Pragmatis adalah Ibnu Khaldun. Sedangkan tokoh Pragmatisme Barat yaitu John Dewey.Bila filsafatpendidikan Islam berkiblat pada pandangan pragmatisme JohnDewey, tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalahsegala sesuatu yang sifatnya nyata, bukan hal yang di luarjangkauan pancaindera.
Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan dan pembelajaran adalah tabi’i (pembawaan) manusia karenaadanya kesanggupan berfikir. Pendidikan bukan hanya
bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi juga untuk mendapatkan keahlian duniawi dan ukhrowi,keduanya harus memberikan keuntungan, karena baginya
pendidikan adalah jalan untuk memperoleh rizki.
Ibnu Khaldun mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasarkan tujuan fungsionalnya, yaitu: Ilmu-ilmu yangbernilai instrinsik. Misal: ilmu-ilmu keagamaan, Ontologi danTeologi, dan Ilmu-ilmu yang bernilai ekstrinsik-instrumentalbagi ilmu instrinsik. Misal: kebahasa-Araban bagi ilmu syar’iy,dan logika bagi ilmu filsafat.
Berdasarkan sumbernya, ilmu dapat dibagi menjadi dua yaitu: Ilmu ‘aqliyah (intelektual) yaitu ilmu yang diperolehmanusia dari olah pikir rasio, yakni ilmu Mantiq (logika), ilmu
alam, Teologi dan ilmu Matematik, dan Ilmu naqliyah yaitu ilmu yang diperoleh manusia dari hasil transmisi dari orangterdahulu, yakni ilmu Hadits, ilmu Fiqh, ilmu kebahasa-Araban,dan lain-lain.
Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pendidikan bukanlah suatuaktivitas yang semata-mata bersifat pemikiran dan perenunganyang jauh dari aspek-aspek pragmatis di dalam kehidupan,akan tetapi ilmu dan pendidikan merupakan gejala konklusifyang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannyadalam tahapan kebudayaan. Menurutnya bahwa ilmu danpendidikan tidak lain merupakan gejala sosial yang menjadi ciri
khas jenis insani.[10]

D.    Ruang Lingkup Pendidikan Islam
Pembahasan tentang ruang lingkup filsafat pendidikan Islam sebenarnya merupakan pengkajian dari aspek ontologis filsafat pendidikan Islam. Setiap ilmu pengetahuan memiliki objek tertentu yang akan dijadikan sasaran penyelidikan (objek material) dan yang akan dipandang (objek formal). Perbedaan suatu ilmu pengetahuan dengan ilmu lainnya terletak pada sudut pandang (objek formal) yang digunakannya. Objek material filsafat pendidikan Islam sama dengan filsafat pendidikan pada umumnya, yaitu segala sesuatu yang ada. Segala sesuatu yang ada ini mencakup “ada yang tampak” dan “ada yang tidak tampak”. Ada yang tampak adalah dunia empiris, dan ada yang tidak tampak adalah alam metafisis. Adapun objek formal filsafat pendidikan Islam adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan objektif tentang pendidikan Islam untuk dapat diketahui hakikatnya.
Secara makro, yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan Islam adalah yang tercakup dalam objek Material filsafat, yaitu mencari keterangan secara radikal mengenai Tuhan, manusia, dan alam yang tidak bisa dijangkau oleh pengetahuan biasa. Sebagaimana filsafat, filsafat pendidikanIslam juga mengkaji ketiga objek ini berdasarkan ketiga cabangnya: ontologi, epistemologi, dan aksiologi.
Secara mikro objek kajian filsafatpendidikan Islam adalah hal-hal yang merupakan faktor atau komponen dalam proses pelaksanaan pendidikan. Faktor atau komponen pendidikan ini ada lima, yaitu tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan (kurikulum, metode, dan evaluasi pendidikan), dan lingkungan pendidikan.
Untuk lebih memfokuskan pembahasan filsafat pendidikan Islam yang sesuai dengan fokus penelitian ini, maka cukup disajikan ruang lingkup pembahasan filsafat pendidikan Islam secara makro.
a.Ontologi
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos.Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada.Dalam konsep filsafat ilmu Islam, segala sesuatu yang ada ini meliputi yang nampak dan yang tidak nampak (metafisis). Filsafat pendidikan Islam bertitik tolak pada konsep the creature of God, yaitu manusia dan alam. Sebagai pencipta, maka Tuhan telah mengatur di alam ciptaan-Nya. Pendidikan telah berpijak dari humansebagai dasar perkembangan dalam pendidikan. Ini berarti bahwa seluruh proses hidup dan kehidupan manusia itu adalah transformasi pendidikan.
Sehingga yang menjadi dasar kajian atau dalam istilah lain sebagai objek kajian (ontologi) filsafat pendidikan Islam seperti yang termuat di dalam wahyu adalah mengenai pencipta (khalik), ciptaan-Nya (makhluk), hubungan antar ciptaan-Nya, dan utusan yang menyampaikan risalah pencipta (rasul).Dalam hal ini al-Syaibany mengemukakan bahwa prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan tentang alam raya meliputi dasar pemikiran:
1.Pendidikan dan tingkah laku manusia serta akhlaknya selain dipengaruhi oleh lingkungan sosial dipengaruhi pula oleh lingkungan fisik (benda-benda alam);
2.Lingkungan dan yang termasuk dalam alam raya adalah segala yang diciptakan oleh Allah swt baik makhluk hidup maupun benda-benda alam;
3.Setiap wujud (keberadaan) memiliki dua aspek, yaitu materi dan roh. Dasar pemikiran ini mengarahkan falsafah pendidikan Islam menyusun konsep alam nyata dan alam ghaib, alam materi dan alam ruh, alam dunia dan alam akhirat;
4.Alam senantiasa menngalami perubahan menurut ketentuan aturan pencipta;
5.Alam merupakan sarana yang disediakan bagi manusia untuk meningkatkan kemampuan dirinya.
            b.Epistemologi
Epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti pengetahuan dan Logosyang berarti ilmu. Jadi epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. Epistemologi disebut juga teori pengetahuan, yakni cabang filsafat yang membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan, hakikat pengetahuan dan sumber pengetahuan.
Dengan kata lain, epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan. Tata cara, teknik, atau prosedur.
Mendapatkan ilmu dan keilmuan adalah dengan metode non-ilmiah, metode ilmiah, dan metode problem solving.Pengetahuan yang diperoleh dengan metode non-ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara penemuan secara kebetulan; untung-untungan(trial and error); akal sehat (common sense); prasangka; otoritas (kewibawaan); dan pengalaman biasa.Metode ilmiah adalah cara memperoleh pengetahuan melalui pendekatan deduktif dan induktif. Sedangkan metode problem solvingadalah memecahkan masalah dengan cara mengidentifikasi permasalahan, merumuskan hipotesis; mengumpulkan data; mengorganisasikan dan menganalisis data;menyimpulkan dan conclusion; melakukan verifikasi, yakni pengujian hipotesis. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan teori-teori, prinsip-prinsip, generalisasi dan hukum-hukum. Temuan itu dapat dipakai sebagai basis, bingkai atau kerangka pemikiran untuk menerangkan, mendeskripsikan, mengontrol, mengantisipasi tau meramalkan sesuatu kejadian secara tepat.
c.Aksiologi
Landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusiaberikut manfaatnya bagi kehidupan manusia. Dengan kata lain, apa yang dapat disumbangkan ilmu terhadap pengembangan ilmu itu dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.Dalam bahasan lain, tujuan keilmuan dan pendidikan Islam yang berusaha untuk mencapai kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat ini sesuai dengan Maqasid al-Syariahyakni tujuan Allah SWT dan Rasul-Nya dalam merumuskan hukum Islam. Sementara menurut Wahbah al Zuhaili, Maqasid Al Syariahberarti nilai-nilai dan sasaran syara' yang tersirat dalam segenap atau bagian terbesar dari hukum-hukumnya. Nilai-nilai dan sasaran-sasaran itu dipandang sebagai tujuan dan rahasia syariah, yang ditetapkan oleh al-Syari' dalam setiap ketentuan hukum. Menurut Syathibi tujuan akhir hukum tersebut adalah satu, yaitu mashlahah atau kebaikan dan kesejahteraan umat manusia.
Kemudian Muzayyin Arifin memberikan definisi aksiologi sebagai suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai tinggi dari Tuhan, misalnya nilai moral, nilai agama, dan nilai keindahan (estetika).Jika aksiologi ini dinilai dari sisi ilmuwan, maka aksiologi dapat diartikan sebagai telaah tentang nilai-nilai yang dipegang ilmuwan dalam memilih danmenentukan prioritas bidang penelitian ilmu pengetahuan serta penerapan dan pemanfaatannya.[11]
Dalam pandangan Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany mengemukakan lima prinsip dasar dalam kajian filsafat pendidikan Islam. kelima prinsip dasar mencakup :
1.    Pandangan Islam tentang jagat raya, meliputi pemikiran, bahwa :
a.       Pendidikan dan tingkah laku manusia, serta akhlaknya selain dipengaruhi oleh lingkungan sosial, juga dipengaruhi oleh lingkungan fisik (benda-benda alam).
b.      Lingkungan dan yang termasuk jagat raya adalah segala yang diciptakan Allah, baik makhluk hidup mmaupun benda-benda alam.
c.       Setiap wujud (keberadaan) memiliki dua aspek, yakni materi dan ruh. Dasar dan pemikiran iini mengarahkan filsafat pendidikan islam menyusun konsep alam nyata dan alam gaib, alam materi dan alam ruh, alam dunia dan alam akhirat.
d.      Alam senantiasa mengalami perubahan menurut ketentuan-ketentuan dan penciptanya (Surah Allah).
e.       Keteraturan gerak alam merupakan bukti bahwa alam ditata dalam suatu tatanan yang tunggal sebagai Sunnah Allah (Sunnatullah).
f.       Alam merupakan sarana yang disediakan bagi manusia untuk meningkatkan kemampuan dirinya.
g.      Pencipta alam (Allah) adalah wujud yang berada di luar alam, dan memiliki kesempurnaan, serta sama sekali terhindar dari semua cacat cela. Dengan demikian semua Wujud Pencipta (Khaliq) berbeda dan tidak sama dengan wujud ciptaan-Nya (makhluq).
2.    Pandangan Islam terhadap manusia, memuat pemikiran bahwa :
a.       Manusia adalah makhluk (ciptaan) Allah yang paling mulia, sesuai dengan kejadiannya.
b.      Manusia diberi beban amanat sebagai khalifah (mandataris) Allah dibumi guna memakmurkannya.
c.       Manusia memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, kemampuan belajar dan kemampuan untuk mengembangkan diri.
d.      Manusia adalah mkhluk yang memiliki dimensi jasmani, rohani (mental), dan ruh (spiritual).
e.       Manusia tumbuh dan berkembang sesuai dimensi potensi genetika (faktor keturunan) dan lingkungan yang mempengaruhinya.
f.       Manusia memiliki faktor perbedaan individu (individual differencies).
g.      Manusia memiliki sifat fleksibelitas (keluwesan) dan memiliki kemampuan untuk mengubah, serta mengembangkan diri.
h.      Manusia memiliki motivasi dan kebutuhan.
3.    Pandangan Islam terhadap masyarakat berisi pemikiran, bahwa :
a.       Masyarakat merupakan kumpulan individu yang terikat oleh satuan dari berbagai aspek seperti tanah air, budaya, agama, tradisi, dan lain-lain.
b.      Agama itu adalah aqidah, ibadah dan muamalah.
c.       Masyarakat islam memiliki identintas tersendiri antara prinsip  yang berbeda dari masyarakat yang lain.
d.      Dasar pembinaan masyarakat islam adalah akidah, keimanan tentang wujud dan keesaan Allah.
e.       Ilmu adalah dasar yang terbaik bagi kemajuan masyarakat.
f.       Masyarakat selalu mengalami perubahan.
g.      Pentingnya individu dan keluarga dalam masyarakat.
h.      Segala aktivitas yang diarahkan bagi kesejahteraan bersama, keadilan, dan kemaslahatan kemanusiaan termasuk bagian tujuan dari syari’at islam.
4.    Pandangan Islam terhadap pengetahuan manusia, memuat pemikiran bahwa:
a.       Pengetahuan adalah potensi yang dimiliki manusia dalam upaya meningkatkan kehidupan individu dan masyarakat.
b.      Pengetahuan terbentuk berdasarkan kemampuan nalar manusia dengan bantuan penginderaan. Sumber pengetahuan adalah wahyu dan nalar.
c.       Pengetahuan manusia memiliki kadar dan tingkat yang berbeda sesuai dengan objek, tujuan dan metodenya. Pengetahuan yang paling utama adalah pengetahuan yang berhubung dengan Allah, perbuatan dan makhluk-Nya.
d.      Pengetahuan manusia pada hakikatnya adalah hasil penafsiran dari pengungkapan kembali terhadap masalah-masalah ciptaan Allah. Dengan demikian pengetahuan bukanlah hasil dari proses pemikiran manusia yang optimal secara murni.
e.       Pengetahuan dapat diperoleh dengan berbagai cara seperti pengamatan langsung, penelitian, kajian terhadap peristiwa, rangukuman dari berbagai pendapat, ataupun melalui bimbinan ilahi.
f.       Pengetahuan hakiki adalah pengetahuan yang didasari oleh akidah, karena dapat memberikan ketentraman batin. Didalamnya terkandung keyakinan dan kesesuaian dengan agama.
5.    Pandangan Islam terhadap akhlak, mengandung pemikiran bahwa :
a.       Pentingnya akhlak dalam kehidupan, serta dapat dibentuk melalui upaya pembinaan yang baik.
b.      Akhlak merupakan faktor yang diperoleh dan dipelajari.
c.       Akhlak dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti waktu, tempat, situasi dan kondisi masyarakat, adat istiadat sistem dan cita-cita (pandangan hidup). Dengan demikian akhlak tidak selalu terpelihara dari pengaruh keburukan dan kesalahan.
d.      Akhlak sesuai dengan fitrah dan akal sehat manusia (commons sense).
e.       Akhlak mempunyai tujuan akhir yang identik dengan tujuan akhir ajaran islam, yaitu untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.
f.       Ajaran islam merupakan sumber nilai-nilai akhlak, karena pada hakikatnya akhlak merupakan realisasi dari  ajaran Islam itu sendiri, yakni bagaimana hidup beriman dan bertaqwa kepada Allah.
g.      Akhlak berintikan tanggung jawab terhadap amanat Allah yyang keabsahannya dinilai dari tingkat kemampuan untuk mengaplikasikan hubungan yang sebaik mungkin antar sesama manusia, seluruh mahluk ciptaan Allah atas dasar ridha Allah, karena sesuai dengan ketentuan dan fitrahnya. Akhlak mulia (terpuji) merupakan tujuan akhir dari sikap hidup yang diinginkan.
Ruang lingkup kajian filsafat Islam juga meliputi masalah-masalah yang berhubungan dengan sistem pendidikan Islam itu sendiri. Adapun komponen-komponen yang termasuk dalam sistem pendidikan itu, antara lain dasar yang melandasi pembentukan sistem tersebut. Lalu tujuan yang aka dicapai oleh pendidikan Islam tersebut. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud, maka perlu ada rumusan siapa yang akan dididik, siapa pelaksanaanya, bagaimana cara penyelenggaraannya, sarana dan prasarana yang diperlukan, materi apa yang diberikan,  bagaiman caranya, kondisi apa yang perlu diciptakan, serta bagaimana mengukur tingkat encapaianny .
Pemikiran-pemikiran menggambarkan cakupan teori maupun rumusan mengenai peserta didik, pendidik, manajemen, institusi, kurikulum, metode, alat dan evaluasi pendidikan. Semua komponen ini tergabung dalam sistem. Sebab sistem dapat diartikan sebagai proses aktivitas yang didalmnya tersusun komponen-komponen yang saling menentukan, saling tergantung, dan berhubungan antara sesamanya, dalam mencapai tujuan.
Ruang ligkup kajian filsafat Islam, mengacu kepada semua aspek yang diangap mempunyai hubungan dengan pendidikan dalam arti luas. Tidak terbatas oleh institusi pendidikan formal saja. Lapangan pendidikan dimadrasah (sekolah) seperti linngkungan rumah tangga, peribadatan, masyarakat maupun tradisi sosiokultural juga termasuk ddalam kajian fiilsafat pendidikan Islam. bahkan secara lebih rinci, pendidikan pre-natal menjadi kajian lebih khusus dalam filsafat pendidikan Islam.
Dengan demikian ruang lingkup kajian filsafat pendidikam Islam boleh dikatakan identik dengan kajian keislaman itu sendiri. Mencakup semua aspek kehidupan manusia secara menyeluruh terkait dengan masalah pendidikan. Adapun dalam proses, ruang lingkup kajian filsafat pendidikan Islam tentang kehidupan manusia itu sendiri, yakni dari sejak dilahirkan hingga sampai akhir hayatnya. Namun yang jelas kajian ini sama sekali tidak dilepaskan dari manusia sebagai makhluk ciptaan Allah.[12]



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari urain diatas dapatlah dirangkainkan bahwa  filsafat pendidikan Islam adalah pemikiran mendalam, universal dan sistematis yang berkaitan dengan masalah-masalah pendidikan Islam. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam, jadi ia bukan filsafat yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya.
            Dengan demikian ruang lingkup kajian filsafat pendidikam Islam boleh dikatakan identik dengan kajian keislaman itu sendiri. Mencakup semua aspek kehidupan manusia secara menyeluruh terkait dengan masalah pendidikan. Adapun dalam proses, ruang lingkup kajian filsafat pendidikan Islam tentang kehidupan manusia itu sendiri, yakni dari sejak dilahirkan hingga sampai akhir hayatnya. Namun yang jelas kajian ini sama sekali tidak dilepaskan dari manusia sebagai makhluk ciptaan Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Dahri Tiam, Sunarji.Berkenalan Dengan Filsafat Islam,  1987. Jakarta: Bulan Bintang.
Hawi, Akmad. Perkembangan pemikiran pendidikan islam, 1987. Palembang: IAIN Raden Fatah palembang
Murtopo, Ali.Filsafat Pendidikan Islam, , 2016. Palembang: NoerFikri.
Rabiaty, Rahmi.Filsafat Pendidikan Islam, 2014. Palangkaraya: Rahmi Rabiaty.http://www.google.com/search?client=ms-android samsung&espv=1&q=pdf.+filsafat+islam&aqs=mobile-gws-lite...0l5. Diakses tanggal 17 Maret 2017.
Suharto, Toto.2014. Filsafat pendidikan Islam. Jakarta. http://eprints.walisongo.ac.id/083111098.BAB2.pdf. Diakses tanggal 17 Maret 2017.





[1] Sunarji Dahri Tiam, Berkenalan Dengan Filsafat Islam, hal. 10-13, 1987. Jakarta: Bulan Bintang.
[2]Ali Murtopo, Filsafat Pendidikan Islam, hal. 3, 2016. Palembang: NoerFikri.
[3]Sunarji Dahri Tiam, Berkenalan Dengan Filsafat Islam, hal. 7-9, 1987. Jakarta: Bulan Bintang.
[4]Rahmi Rabiaty, Filsafat Pendidikan Islam, hal 7-9, 2014. Palangkaraya: Rahmi Rabiatyhttp://www.google.com/search?client=ms-android-samsung&espv=1&q=pdf.+filsafat+islam&aqs=mobile-gws-lite...0l5. Diakses tanggal 17 Maret 2017
[5]Sunarji Dahri Tiam, Berkenalan Dengan Filsafat Islam, hal. 40-43, 1987. Jakarta: Bulan Bintang.
[6]Ali Murtopo, Filsafat Pendidikan Islam, hal. 1-3, 2016. Palembang: NoerFikri.
[7]Rahmi Rabiaty, Filsafat Pendidikan Islam, hal 7-9, 2014. Palangkaraya: Rahmi Rabiatyhttp://www.google.com/search?client=ms-android-samsung&espv=1&q=pdf.+filsafat+islam&aqs=mobile-gws-lite...0l5.
[8]Ali Murtopo, Filsafat Pendidikan Islam, hal. 9-11, 2016. Palembang: NoerFikri.
[9]Ibid. hal. 22-23
[10]Rahmi Rabiaty, Filsafat Pendidikan Islam, hal 7-9, 2014. Palangkaraya: Rahmi Rabiaty http://www.google.com/search?client=ms-android-samsung&espv=1&q=pdf.+filsafat+islam&aqs=mobile-gws-lite...0l5
[11]Suharto, Toto.2014. Filsafat pendidikan Islam. Hal 7-12. Jakarta. http://eprints.walisongo.ac.id/083111098.BAB2.pdf. Diakses tanggal 17 Maret 2017


[12]Ali Murtopo, Filsafat Pendidikan Islam, hal. 14-19, 2016. Palembang: NoerFikri
 

Translate

Total Tayangan Laman

Follow by Email

Islamic Education Copyright © 2009 Community is Designed by Bie